Tour jurnalistik
Sabtu, 01 September 2012 by Ewar Patulisi in



Menelusuri Jejak Budaya di Utara Sulawesi Selatan

        Tana Toraja merupakan kabupaten yang terletak sekitar 350 km di sebelah utara kota Makassar. Untuk sampai ke daerah ini, kita bisa menggunakan transportasi darat seperti bus. Transportasi yang tergolong murah dan bisa mengangkut banyak penumpang itu menjadi pilihan untuk kami menuju negeri tongkonan. 
         Senin (18/6) sekitar pukul 20.00 WITA tim Paburitta dan awak media lainnya bertolak menuju Tana Toraja dengan 'Setuju'. Perjalanan yang semula diprediksi hanya menghabiskan waktu selama delapan jam ternyata melenceng. Kami sampai di Rantepao Lodge sekitar pukul 08.00 WITA, itu berarti kami menempuh perjalanan selama kurang lebih sepuluh jam. Perjalanan panjang membuat fisik sedikit letih, namun kami harus segera berbenah untuk memulai petualangan di daerah yang udaranya sejuk ini.
           Innova hitam yang kami tumpangi untuk menjelajahi negeri Tongkonan melaju menuju Pasar Hewan Bolu yang terletak di Kabupaten Toraja Utara. Di pasar ini anda bisa melihat berbagai jenis kerbau yang ditawarkan dengan harga yang cukup tinggi, selain kerbau di tempat ini juga banyak dijumpai babi. Puas menjelajahi pasar, kami lanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya.
         Matahari mulai meninggi tapi tidak menyengat ketika kami sampai di Kelurahan Lemo. Setelah berjalan kaki sedikit, kami mencapai tempat upacara kematian. Di tempat ini kami dijamu secara adat, disuguhi makanan dan minuman. Kami juga melihat beberapa kerbau dan babi disembelih yang kemudian diambil dagingnya. Di tengah lapangan terlihat beberapa laki-laki berdiri membuat lingkaran dengan cara berpegangan tangan sambil melantunkan sesuatu. Menurut salah seorang narasumber, itu disebut mabado. Di dekat rumah Tongkonan kami juga melihat wanita-wanita paruh baya yang menumbuk lesung secara berirama. Salah seorang kawan pun tertarik untuk mencobanya.
        Setelah melihat beberapa ritual upacara, tim Paburitta dan rombongan lainnya berjalan kaki menuju Lemo. Tempat ini sering disebut rumah para arwah. Lemo merupakan kompleks pemakaman, di sini anda bisa melihat peti-peti mayat dan kasopi di sela-sela bebatuan. Pemandangan alam di sekitar tempat ini pun indah. Sebelum pulang ke penginapan kami sempatkan berbelanja oleh-oleh di toko-toko souvenir yang berjejer rapi, tidak jauh dari kompleks pemakaman. Petualangan hari pertama usai, kami sampai di penginapan bersamaan dengan matahari yang kembali keperaduannya.
      Udara pagi Tator yang dingin ditambah guyuran hujan membuat kami betah berlama-lama di dalam kamar untuk menghangatkan diri. Jarum jam tidak ingin berkompromi dengan kami, terus berputar. Kami terpaksa segera bersiap-siap untuk petualangan hari kedua, jika tidak ingin ditinggalkan.
       Setelah sarapan, kami memulai perjalanan. Tujuan pertama kami hari ini, tempat penyembelihan hewan. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, sampai di tujuan.  Di tempat ini kami melihat lebih dari sepuluh ekor kerbau yang disembelih. Kami meninggalkan lokasi setelah semua kerbau selesai disembelih.
       Londa, tujuan kami berikutnya. Di tempat ini terdapat gua yang di dalamnya ada peti-peti mayat yang diatur sesuai garis keluarga. Tengkorak-tengkorak pun dengan mudah anda jumpai di sini, bahkan anda bisa berfoto dengan tengkorak jika mau. Kami memasuki gua secara berkelompok karena pencahayaan yang terbatas.
      Puas berfoto-foto dan menikmati alam di Londa, kami bertolak menuju Ke’te kesu. Daerah yang terletak sekitar 4 km dari arah tenggara Rantepao ini menyajikan pemandangan yang juga luar biasa. Anda bisa melihat tongkonan tua dan lumbung padi yang berjejer rapi. Usia tongkonan itu terlihat dari rangakain tanduk kerbau yang terdapat di bagian depannya dan  atapnya yang tampak hijau karena ditumbuhi lumut dan tanaman parasit lainnya. Di belakang perkampungan tongkonan ini, anda akan menemui kuburan, tengkorak, dan tau-tau. Toko-toko souvenir pun akan banyak anda jumpai di sini.
       Hari mulai beranjak sore, kami meninggalkan Ke’te Kesu menuju Todi Shop yang berada di jalan Pembangunan No.19 Rantepao. Tempat yang kami kunjungi kali ini berbeda dengan sebelumnya. Di sini anda tidak akan menjumpai tengkorak dan peti mati. Todi Shop merupakan salah satu toko yang menjual souvenir khas Tator, seperti kain tenun, baju, dan hiasan. Toko ini merupakan tempat terakhir yang kami kunjungi di Tana Toraja. Kami tidak berlama-lama di tempat ini, sekitar pukul 16.00 WITA kami sudah meningalkan lokasi. 
        Mobil yang kami tumpangi kembali melaju, menuju Pasar Rantepao. Perwakilan bus yang kami tumpangi ada di sana. Hanya dengan beberapa menit, kami sudah sampai di perwakilan "Setuju". Sambil menunggu bus datang, teman-teman tidak ingin membuang waktu. Mereka tampaknya belum puas berburu oleh-oleh di beberapa toko, hingga kembali menjajal kemampuan berbelanjanya di pasar ini.
         Lepas adzan Isya bus yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang. Kami segera berebutan menaikinya, duduk di kursinya yang empuk, mengistirahatkan tubuh yang letih bertualang, menjelajahi Tana Toraja yang eksotik. Bus melaju meninggalkan pasar, meninggalkan negeri tongkonan menuju kota daeng.



Posting Komentar