sore yang basah
Jumat, 14 Desember 2012 by Ewar Patulisi in


Tak seperti sore yang lalu. Sore ini aku meringkuk di atas dipan yang kasurnya sudah mulai menipis hingga papan-papannya mampu meraba tulang punggungku, mengetik sambil menahan dingin yang menggelitik kakiku karena tak berselimut.
Sore ini aku tak kuyub seperti sore kemarin. Sore ini hujan benar-benar deras, ia tak memberi jeda pada para petualang. Ia terus mengguyur para petualang yang menentangnya, seperti sore kemarin. Bulir-bulirmu terlalu besar sore ini untuk ditentang. Mungkin sang penguasa alam tahu, bahwa sore ini aku ada di rumah tak keluyuran di daerah antah-berantah sehingga mencurahkanmu sederas ini. Bunyi suara air yang jatuh di atap seng rumahku terdengar dengan jelas, walau ada plafon yang mengantarainya.
Mungkin hujan sore ini menahan langkahmu untuk pulang, seperti sore kemarin. Menunggu tentara air itu berhenti menyerang, meski gelap mulai merayapi cakrawala yang basah, kau tetap sabar.
Mungkin bahkan diam-diam kau berdoa dalam hati agar tentara dari langit itu tak menghentikan serangannya. Terus menyerang agar kau terus berlindung. Semakin lama semakin baik. Bukan karena kau menikmati suaranya ketika ia jatuh di atap seng. Bukan pula karena kau menikmati tiap tetesnya yang begitu pasrah jatuh dari langit. Melainkan karena kau tak ingin pulang. 
Tak lama lagi adzan magrib akan berkumandang. Alat pengeras suara masjid-masjid di sekitar rumah sudah mengumandangkan ayat-ayat Allah. Sebentar lagi langit akan berubah warna.
Sore ini jangan berharap melihat semburat merah di kaki langit, seperti biasanya. Sore ini semburat merah jingga itu sedang libur. Ia beristirahat, mungkin lelah muncul saban pergantian hari. Mungkin ia berharap para petualang yang selalu menantinya, merindukannya.

Posting Komentar