Tak seperti sore yang lalu. Sore ini aku meringkuk di atas dipan yang kasurnya sudah mulai menipis hingga papan-papannya mampu meraba tulang punggungku, mengetik sambil menahan dingin yang menggelitik kakiku karena tak berselimut.
Sore ini aku tak kuyub seperti sore
kemarin. Sore ini hujan benar-benar deras, ia tak memberi jeda pada para
petualang. Ia terus mengguyur para petualang yang menentangnya, seperti sore
kemarin. Bulir-bulirmu terlalu besar sore ini untuk ditentang. Mungkin sang
penguasa alam tahu, bahwa sore ini aku ada di rumah tak keluyuran di daerah
antah-berantah sehingga mencurahkanmu sederas ini. Bunyi suara air yang jatuh
di atap seng rumahku terdengar dengan jelas, walau ada plafon yang mengantarainya.
Mungkin hujan sore ini menahan
langkahmu untuk pulang, seperti sore kemarin. Menunggu tentara air itu berhenti
menyerang, meski gelap mulai merayapi cakrawala yang basah, kau tetap sabar.
Mungkin bahkan diam-diam kau berdoa
dalam hati agar tentara dari langit itu tak menghentikan serangannya. Terus
menyerang agar kau terus berlindung. Semakin lama semakin baik. Bukan karena
kau menikmati suaranya ketika ia jatuh di atap seng. Bukan pula karena kau
menikmati tiap tetesnya yang begitu pasrah jatuh dari langit. Melainkan karena
kau tak ingin pulang.
Tak lama lagi adzan magrib akan
berkumandang. Alat pengeras suara masjid-masjid di sekitar rumah sudah
mengumandangkan ayat-ayat Allah. Sebentar lagi langit akan berubah warna.
Sore ini jangan berharap melihat
semburat merah di kaki langit, seperti biasanya. Sore ini semburat merah jingga
itu sedang libur. Ia beristirahat, mungkin lelah muncul saban pergantian hari.
Mungkin ia berharap para petualang yang selalu menantinya, merindukannya.
