Gadis kecil di Butta Toa
Dua bulan menghirup udara Bantaeng, banyak kenangan
terlahir di sana yang kubawa kembali ke kota daeng, meskipun tak setiap jengkal
tanahnya berhasil kupijak. Salah satunya kenangan tentang seorang gadis kecil
yang kutemui di sana....
Di perbatasan salah satu kelurahan yang ada di Butta
Toa Bantaeng aku berjumpa dengan seorang gadis kecil. Dia menemani kami melewati hari-hari selama
berdiam kurang lebih dua bulan di bumi Bantaeng. Hampir setiap hari dia
bertandang ke posko kami. Makan, shalat berjamah di masjid atau sekadar
berjalan-jalan santai kadang kami lakukan bersama gadis kecil yang masih duduk
di bangku kelas 4 SD itu. Senyum manisnya yang ceria, kelincahannya,
kepolosannya dalam bertutur, dan segala tingkah polahnya menjadi kenangan
tersendiri.
Aku masih ingat saat ia menenteng kantongan berisi es
batu untuk diberikan pada kami. Tak hanya es, tahu isi, sayuran, kue, dan entah
apalagi yang tak mampu kuingat pernah ia bawa untuk kami. Aku juga masih ingat
langkah-langkah kecilnya yang menyusul kami di salah satu pagi yang masih
sangat belia. Menyusuri jalanan yang msih sepi sampai ke Pantai Seruni.
Jika di hari-hari sekolah dia datang terlalu pagi ke
posko, kami pasti langsung tahu kalau dia lagi-lagi bolos sekolah....
Meski mungkin tulisan ini tak akan pernah ia baca,
aku tetap ingin menulis pesan untuknya.
“Indah, jangan malas ke sekolah ya”.
