Aku
melangkah, membiarkan rombongan air yang tidak terlalu deras dari langit
mendarat empuk di tubuhku. Rombongan air itu semakin deras. Membasahi kerudung
hitam yang kukenakan, baju, dan rokku pun tak luput disapanya. Bahkan sepatu dan kaos kaki yang juga kukenakan
telah basah. Semakin deras, akhirnya aku berteduh. Jarum jam terus berputar,
waktu terus bergulir. Hari semakin sore, bahkan tak lama lagi malam akan
menyapa. Rombongan air dari langit terus turun, bagai tentara dan koloni-koloninya
yang terus menyerang. Aku tak mau kalah. Aku tak ingin terperangkap di tempat
ini sampai hari menngelap. Kuterobos rombongan air dari langit yang tak juga mau
mengalah, untuk menahan geraknya di awan. Terus menemani peralananku, mengikuti
langkah-langkahku. Menerpa wajahku. Membasahi separuh bagian tubuhku. Tak
kupedulikan. Aku tetap melangkah, tak mau kalah. Diam-diam aku berdoa dalam
hati agar Yang Mahakuasa menahan tentara air itu di awan. Sejenak memberi ruang
padaku untuk meniti jalan ini hingga ke persimpangan.
Lamat-lamat
bulir-bulir air yang jatuh dari langit semakin kecil, meski tak benar-benar
berhenti. Aku bersyukur. Paling tidak aku tak basah kuyub sampai di rumah.
Ini
bukan pertama kalinya aku membiarkan air dari langit itu mendarat di tubuhku,
membasahi pakaian yang kukenakan. Bulan lalu, di suatu sore yang tak kalah
basah dengan sore kemarin, untuk pertama kalinya aku begitu menikmati sentuhan
air dari langit yang jatuh di wajahku,
setelah sekian lama tidak. Ya, lama, terlau lama hingga aku lupa kapan
terakhir aku berhujan-hujan ria, menikmati, membiarkan zat cair itu melalui
pori-pori kain yang ada di tubuhku menyapa kulitku.
Sebenarnya
aku ingin air dari langit yang turun ke bumi ini karena izinNya tak hanya
membasuh, membasahi kulit wajah dan pakaianku. Tapi aku ingin hati yang ada
dalam rongga dadaku inipun dibasuhnya. Entah apa yang kurasa, tak tentu. Banyak
orang yang menyebutnya galau.
Aku
tidak sedang sedih, senang, kecewa, marah, cemburu, kesal atau apapun itu. Aku
merasa tawar, ya tawar. Setawar air hujan. Aku merasa biasa, sangat biasa.
Saat
mendengar deru mesin bermotor di belakangku, rasanya tak ingin berbalik. Tapi
sesuatu memaksa tubuhku berbalik, memaksaku tersenyum dan melambaikan tangan.
Tawar. Itu yang kurasa pada detik itu. Tapi aku berusaha terlihat manis.
Terlihat baik, terlihat
biasa saja. Karena semua memang biasa saja. Tak ada yang spesial.
