AIR DARI LANGIT
Sabtu, 12 Januari 2013 by Ewar Patulisi in


Aku melangkah, membiarkan rombongan air yang tidak terlalu deras dari langit mendarat empuk di tubuhku. Rombongan air itu semakin deras. Membasahi kerudung hitam yang kukenakan, baju, dan rokku pun tak luput disapanya. Bahkan  sepatu dan kaos kaki yang juga kukenakan telah basah. Semakin deras, akhirnya aku berteduh. Jarum jam terus berputar, waktu terus bergulir. Hari semakin sore, bahkan tak lama lagi malam akan menyapa. Rombongan air dari langit terus turun, bagai tentara dan koloni-koloninya yang terus menyerang. Aku tak mau kalah. Aku tak ingin terperangkap di tempat ini sampai hari menngelap. Kuterobos rombongan air dari langit yang tak juga mau mengalah, untuk menahan geraknya di awan. Terus menemani peralananku, mengikuti langkah-langkahku. Menerpa wajahku. Membasahi separuh bagian tubuhku. Tak kupedulikan. Aku tetap melangkah, tak mau kalah. Diam-diam aku berdoa dalam hati agar Yang Mahakuasa menahan tentara air itu di awan. Sejenak memberi ruang padaku untuk meniti jalan ini hingga ke persimpangan.
Lamat-lamat bulir-bulir air yang jatuh dari langit semakin kecil, meski tak benar-benar berhenti. Aku bersyukur. Paling tidak aku tak basah kuyub sampai di rumah.
Ini bukan pertama kalinya aku membiarkan air dari langit itu mendarat di tubuhku, membasahi pakaian yang kukenakan. Bulan lalu, di suatu sore yang tak kalah basah dengan sore kemarin, untuk pertama kalinya aku begitu menikmati sentuhan air dari langit yang jatuh di wajahku,  setelah sekian lama tidak. Ya, lama, terlau lama hingga aku lupa kapan terakhir aku berhujan-hujan ria, menikmati, membiarkan zat cair itu melalui pori-pori kain yang ada di tubuhku menyapa kulitku.
Sebenarnya aku ingin air dari langit yang turun ke bumi ini karena izinNya tak hanya membasuh, membasahi kulit wajah dan pakaianku. Tapi aku ingin hati yang ada dalam rongga dadaku inipun dibasuhnya. Entah apa yang kurasa, tak tentu. Banyak orang yang menyebutnya galau.
Aku tidak sedang sedih, senang, kecewa, marah, cemburu, kesal atau apapun itu. Aku merasa tawar, ya tawar. Setawar air hujan. Aku merasa biasa, sangat biasa.
Saat mendengar deru mesin bermotor di belakangku, rasanya tak ingin berbalik. Tapi sesuatu memaksa tubuhku berbalik, memaksaku tersenyum dan melambaikan tangan. Tawar. Itu yang kurasa pada detik itu. Tapi aku berusaha terlihat manis. Terlihat baik, terlihat biasa saja. Karena semua memang biasa saja. Tak ada yang spesial. 

Posting Komentar