Kita
Selasa, 14 Januari 2014 by Ewar Patulisi in

Kita semakin berjarak...
Nyaris 1 dekade kita jalan bersama. Wajar jika semakin hari jarak antara kita makin jauh. Mungkin saat ini kita hanya terpisah jarak puluhan meter. Besok-besok mungkin sudah puluhan kilometer atau bahkan ratusan kilometer.
Kita semakin berjarak...
Langkah-langkah kita tak lagi selaras.
Benar yang dikatakan salah seorang dari kita. Bahwa kini kita tak hanya merupakan satu kelompok yang terdiri dari empat orang. Tetapi sekarang kita adalah empat orang yang memiliki kelompok masing-masing.
Kita semakin berjarak...
Semoga jarak hanya mampu memisahkan raga kita. Semoga jarak tak memisahkan hati kita sahabat....

Saat ini hanya buku dan gerimis yang kadang menderas yang setia menemani langkah-langkahku.

aroma
Senin, 09 Desember 2013 by Ewar Patulisi in

Aroma demonstrasi kembali tercium dua hari ini....
Lagi-lagi aroma ban terbakar tercium di jalanan....
Huff... bukan suasana yang terlalu bagus.
Bukan waktu yang baik untuk bepergian.... karena beberapa ruas jalanan macet total.

semoga
Selasa, 29 Oktober 2013 by Ewar Patulisi in

Cahaya matahari menyapaku sepanjang perjalanan bergantian dengan gerimis. Hanya dalam beberapa menit aku sudah memasuki kampus biru yang terletak di jalan Alauddin itu. Aku bergegas menuju gedung berlantai 3 yang terletak  di belakang gedung A dan B. Sayang.... siang ini aku tak terlalu beruntung. Dua menit sebelum adzan duhur dikumandangkan aku ditolak oleh dosenku. Misiku untuk mendapat tanda tangannya gagal. Aku malah diomeli. Ah......:( aku terduduk lemas.
Semoga besok aku beruntung. Semoga besok mood beliau baik. Semoga besok beliau langsung menandatangani perbaikanku. Semoga besok semuanya lancar. Semoga kedepannya perjalananku mulus. Semoga semua ini cepat selesai. Ya Allah... kabulkan harapanku. Ya Allah engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kasihani hamba.

Kamis, 29 Agustus 2013 by Ewar Patulisi in

Mungkin tak hanya aku, kalian juga...
Rindu memijaknya, menghirup udaranya, berjalan di bawah langitnya, berbincang dengan orang-orangnya.
Mungkin tak hanya aku, kalian juga...
Rindu memandang ombaknya, duduk di bebatuannya, menikmati senjanya.
Mungkin tak hanya aku, kalian juga...
Ingin kembali bertandan ke kabupaten yang terletak di bagian selatan provinsi Sulawesi Selatan itu.
Meski tak banyak purnama kita lalui di sana....
Meski tak seribu satu malam kita terlelap di sana....
Tapi ribuan cerita lahir di sana, ceritaku, ceritamu, ceritanya, cerita kita.
Cerita yang tak akan habis kita tuturkan dalam waktu semalam.
Cerita yang akan kita bagi pada orang-orang yang kita temui kelak.
Cerita yang akan kita kenang sampai ingatan kita tergerus usia.

Seruni....
Bissappu...
Bantaeng....
Aku jatuh cinta padamu...

Semoga kelak kita bisa bersua kembali.
Mungkin saat itu kau sudah jauh lebih tua, begitu pula aku.
Mungkin saat itu kau sudah banyak berubah, begitu pula denganku.
Tapi ingatanku padamu tak akan berubah, kau tetap hidup di ingatanku sebagai kota mungil yang ramah....

by Ewar Patulisi in

Bulir-bulir air dari langit jatuh satu persatu, menapak bumi. Kupercepat langkahku seiring gerimis yang mempercepat jumlah rombongnnya membasuh bumi.Semenit kemudian suara bergemuruh terdengar dari atap seng tempatku berteduh. Hujan menyapa bumi namun tak lama. Lima menit kemudian tak ada lagi suara air hujan jatuh menghantam seng.

Bantaeng
Minggu, 02 Juni 2013 by Ewar Patulisi in



Gadis kecil di Butta Toa

Dua bulan menghirup udara Bantaeng, banyak kenangan terlahir di sana yang kubawa kembali ke kota daeng, meskipun tak setiap jengkal tanahnya berhasil kupijak. Salah satunya kenangan tentang seorang gadis kecil yang kutemui di sana....

Di perbatasan salah satu kelurahan yang ada di Butta Toa Bantaeng aku berjumpa dengan seorang gadis kecil.  Dia menemani kami melewati hari-hari selama berdiam kurang lebih dua bulan di bumi Bantaeng. Hampir setiap hari dia bertandang ke posko kami. Makan, shalat berjamah di masjid atau sekadar berjalan-jalan santai kadang kami lakukan bersama gadis kecil yang masih duduk di bangku kelas 4 SD itu. Senyum manisnya yang ceria, kelincahannya, kepolosannya dalam bertutur, dan segala tingkah polahnya menjadi kenangan tersendiri.

Aku masih ingat saat ia menenteng kantongan berisi es batu untuk diberikan pada kami. Tak hanya es, tahu isi, sayuran, kue, dan entah apalagi yang tak mampu kuingat pernah ia bawa untuk kami. Aku juga masih ingat langkah-langkah kecilnya yang menyusul kami di salah satu pagi yang masih sangat belia. Menyusuri jalanan yang msih sepi sampai ke Pantai Seruni.

Jika di hari-hari sekolah dia datang terlalu pagi ke posko, kami pasti langsung tahu kalau dia lagi-lagi bolos sekolah....
Meski mungkin tulisan ini tak akan pernah ia baca, aku tetap ingin menulis pesan untuknya.
“Indah, jangan malas ke sekolah ya”.

AIR DARI LANGIT
Sabtu, 12 Januari 2013 by Ewar Patulisi in


Aku melangkah, membiarkan rombongan air yang tidak terlalu deras dari langit mendarat empuk di tubuhku. Rombongan air itu semakin deras. Membasahi kerudung hitam yang kukenakan, baju, dan rokku pun tak luput disapanya. Bahkan  sepatu dan kaos kaki yang juga kukenakan telah basah. Semakin deras, akhirnya aku berteduh. Jarum jam terus berputar, waktu terus bergulir. Hari semakin sore, bahkan tak lama lagi malam akan menyapa. Rombongan air dari langit terus turun, bagai tentara dan koloni-koloninya yang terus menyerang. Aku tak mau kalah. Aku tak ingin terperangkap di tempat ini sampai hari menngelap. Kuterobos rombongan air dari langit yang tak juga mau mengalah, untuk menahan geraknya di awan. Terus menemani peralananku, mengikuti langkah-langkahku. Menerpa wajahku. Membasahi separuh bagian tubuhku. Tak kupedulikan. Aku tetap melangkah, tak mau kalah. Diam-diam aku berdoa dalam hati agar Yang Mahakuasa menahan tentara air itu di awan. Sejenak memberi ruang padaku untuk meniti jalan ini hingga ke persimpangan.
Lamat-lamat bulir-bulir air yang jatuh dari langit semakin kecil, meski tak benar-benar berhenti. Aku bersyukur. Paling tidak aku tak basah kuyub sampai di rumah.
Ini bukan pertama kalinya aku membiarkan air dari langit itu mendarat di tubuhku, membasahi pakaian yang kukenakan. Bulan lalu, di suatu sore yang tak kalah basah dengan sore kemarin, untuk pertama kalinya aku begitu menikmati sentuhan air dari langit yang jatuh di wajahku,  setelah sekian lama tidak. Ya, lama, terlau lama hingga aku lupa kapan terakhir aku berhujan-hujan ria, menikmati, membiarkan zat cair itu melalui pori-pori kain yang ada di tubuhku menyapa kulitku.
Sebenarnya aku ingin air dari langit yang turun ke bumi ini karena izinNya tak hanya membasuh, membasahi kulit wajah dan pakaianku. Tapi aku ingin hati yang ada dalam rongga dadaku inipun dibasuhnya. Entah apa yang kurasa, tak tentu. Banyak orang yang menyebutnya galau.
Aku tidak sedang sedih, senang, kecewa, marah, cemburu, kesal atau apapun itu. Aku merasa tawar, ya tawar. Setawar air hujan. Aku merasa biasa, sangat biasa.
Saat mendengar deru mesin bermotor di belakangku, rasanya tak ingin berbalik. Tapi sesuatu memaksa tubuhku berbalik, memaksaku tersenyum dan melambaikan tangan. Tawar. Itu yang kurasa pada detik itu. Tapi aku berusaha terlihat manis. Terlihat baik, terlihat biasa saja. Karena semua memang biasa saja. Tak ada yang spesial.